Ditulis pada Juni 20, 2008 oleh Abu Ja'far Al Atsary
Dari hasil pemilu 1999, mayoritas kursi DPR dikuasai oleh kelompok sekuler, yaitu PDIP dan Golkar (sekitar 60% kursi). Seandainya 2 kekuatan parpol sekuler anti-islam itu bergabung (berkoalisi) tentu dengan mudah meraih kursi presiden, wapres dan semua posisi menteri, termasuk posisi ketua DPR dan ketua MPR, sehingga partai-partai islam tidak mendapatkan jatah sedikitpun, karena jika voting pasti koalisi partai-partai islam akan kalah. Tetapi berkat anugerah Allah maka 2 kelompok anti islam itu terpecah belah sehingga banyak sekali tokoh dari partai islam (dan partai “semi” islam, yaitu PAN dan PKB) yang menduduki jabatan-jabatan penting. Presidennya dari PKB, ketua MPR dari PAN, dan sebagian menterinya dari partai-partai islam semacam PPP, PKS, PBB, dll. Dengan kata lain, partai-partai islam yang kalah pemilu, yang seharusnya tidak dapat jatah apa-apa, tetapi malah mendapatkan berbagai posisi penting, bisa dikatakan seperti mendapat durian runtuh.
Kasus yang sama terjadi dalam pemilu 2004, gabungan 4 partai sekuler ( PDI, GOLKAR, Partai demokrat, PDS) meraih lebih dari 55% kursi DPR. Jika saja mereka berkoalisi tentu semua jabatan bisa mereka kuasai tanpa menyisakan sedikitpun bagi parpol islam. Tapi mereka tidak bersatu sehingga sekali lagi malah banyak pos penting yang diisi dari wakil parpol islam. Parpol islam meraih kursi ketua MPR dan berbagai posisi menteri.
Apakah Golkar, PDIP dan Partai Demokrat itu musuh islam? Bukankah mereka beragama islam juga? Dan rajin beribadah?
Ya, tentu saja mereka musuh islam, mereka semua menolak hukum islam, undang-undang islam, KUHP islam dan sistem negara islam, lantas apa gunanya mengaku beragama islam?? bukan berarti mereka semua langsung mendapat vonis kafir/murtad, karena hal ini butuh perincian dan tidak bisa digeneralisir, yang jelas partai-partai tersebut sesat dan menyesatkan.
Barangsiapa mengutamakan Pancasila dan UUD 1945 diatas Al Quran dan As sunnah maka hendaklah memeriksa kembali pengakuannya sebagai muslim. Jangan-jangan kitab suci bagi dirinya adalah UUD 1945, bukan Al Quran. Dan jangan-jangan syahadatnya adalah 5 sila Pancasila, dan bukan 2 kalimah syahadat.
Al Quran dan As Sunnah sudah cukup bagi umat islam, sehingga tidak butuh lagi kepada Pancasila maupun UUD 1945. Apakah pancasila bertentangan dengan ajaran islam? tergantung penafsiran pancasilanya, jika penafsirannya disesuaikan dgn ajaran islam ya bisa saja.
Penyimpangan UUD 1945 dari ajaran islam:
1. Dalam UUD45 dijamin kebebasan memeluk agama, tiap orang boleh pindah agama semaunya, sedangkan menurut ajaran islam maka umat islam tidak boleh pindah agama (keluar dari islam), barangsiapa keluar dari islam maka dihukum mati.
2. Kedaulatan ditangan rakyat, seharusnya ditangan Allah.
3. persamaan derajat warga negara, padahal dlm negara islam harusnya umat islam beda derajatnya dgn non-islam (tapi keadilan tetap ditegakkan, jangan disangka lantas orang non-islam boleh dianiaya)
Gambaran jika Indonesia menjadi Negara Islam:
1. Rakyat tidak boleh murtad dari agama islam
2. Semua pejabat negara harus beragama islam, semua PNS harus beragama islam, kecuali terpaksa dlm hal tertentu yg tidak ada umat islam yg mampu.
3. Dalam semua hari raya non-islam maka negara tidak libur, jadi pas Natal, Nyepi, dan waisak tidak dijadikan hari libur nasional.
4. Tanggal 1 januari tidak libur
5. Isra’ mi’raj dan maulid nabi tidak libur
6. Tahun baru hijriyah tidak libur
7. Sebagian besar jenis pajak akan dihapus (sehingga harga barang-barang lbh murah), diganti pajak yg sifatnya sukarela (tidak memaksa)
8. Para gubernur, pejabat, dan bupati harus beragama islam, meskipun penduduk wilayah tersebut mayoritas non-islam
9. Hukum pidana dan perdata harus dari syariat islam
DIarsipkan di bawah: Ahlus Sunnah, Al Masaail, agama, risalah
INTIFADA
PERJUANGAN ADALAH DIATAS SEGALA-GALANYA DEMI MEMPERTAHANKAN TEGAKNYA IZZATUL ISLAM DI MUKA BUMI " ISYHADU BIANNA MUSLIMUN "
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
MAAF PAK M.GHIRA GAZANY, SAYA SANGAT TIDAK SEPENDAPAT DENGAN KOMENTAR-KOMENTAR ANDA SEOLAH-OLAH BAHWA PERNYATAAN ANDA TERLAU BERLEBIHAN UNTUK KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA. KALAU PENDIRI-PENDIRI BANGSA TELAH BERSATU DAN BERKORBAN UNTUK DAPAT MENYAMAKAN VISI-VISI UNTUK MEMPEROLEH KEMERDEKAAN DAN KEHIDUPAN YANG DAMAI TAPI DALAM HAL INI ANDA BERUSAHA MEMECAH BELAH APA YANG TELAH DIPERJUANGKAN PENDAHULU KITA. DAN DALAM HAL INI SAYA SANGAT MENGKHAWATIRKAN NASIONALISME ANDA. BUKAN ITU YANG KAMI PERLUKAN TAPI SIKAP SALING MENGHARGAI DAN MENGHORMATI UNTUK KEMAJUAN BANGSA INI. PIKIR DALAM-DALAM SEBELUM BERUCAP.
Posting Komentar